Study Tour 2019

                                  Dalam rangka meningkatkan kapabilitas anak asuh  Panti Asuhan Al Hidayah Padang  mengadakan Liburan Study Tour 2019  pada akhir tahun  untuk memberikan motivasi dan penyegaran bagi anak-anak dalam masa pertumbuhannya agar tidak mengalami kejenuhan dalam menjalani rutinitas setiap harinya, dengan memberikan petualangan baru dan membuka wawasanya ke dunia baru yang dilaluinya. 

Study Tour 2019 memiliki rute perjalanan panjang, dari Kota Padang menuju Kota Jakarta, Kota Bogor dan Kota Palembang dari tanggal 21 Desember 2019 sampai tangal 30 Desember 2019. Dalam perjalanan kami keadaannya ramai lancar tanpa ada kendala yang berarti melewati jalan tol Palembang-Lampung yang baru di buka untuk umum, Penyeberangan Bakauheni- Merak dan singgah di tempat kakanda alumni Panti Asuhan  1987 yang bernama Anto yang telah menetap di Banten,  perjalanan di lanjutkan ke Mesjid Istiqlal Jakarta untuk melaksanakan  Sholat subuh dan menginap di Gedung Balai LPMP Jakarta selama 3 hari .

Perjalanan wisata di Kota Jakarta dengan mengunjungi Sea Word Ancol  melihat dunia ikan di lautan dan berbagai pengetahuan yang dapat mengenalkan keanekaragaman hayati laut, kemudian di lanjutkan dengan berenang untuk relaksasi badan. Taman Impian Jaya Ancol merupakan wahana permainan berteknologi tinggi dengan variasi permainan yang banyak. Banyak tempat wisata Ancol yang bisa dinikmati. Taman bermain ini diperuntukkan bagi segala kalangan, baik anak-anak hingga dewasa.

Wisata hari ketiga di Jakarta bermain di Taman Mini Indonesia Indah dengan bermain sepeda dan memaknai rumah adat dari berbagai daerah di indonesia yang memiliki sejarah yang menjadi keberagaman suku adat yang melengkapi keanekaragaman wisata tanah air yang mencerminkan perbedaan dan keistimewaan suku-suku yang ada di kepulauan indonesia dari sabang sampai merauke,  dalam bentuk anjungan.

Anjungan Daerah adalah bangunan-bangunan rumah adat yang bercirikan arsitektur tradisional khas daerah Indonesia. Terdapat 33 Anjungan Daerah yang dibangun berderet mengelilingi danau Miniatur Arsipel Indonesia, melambangkan satu kesatuan yang tak terpisahkan. Tiap provinsi menampilkan sekurangnya tiga bentuk rumah adat khas daerah, berada di satu kawasan yang disediakan untuk provinsi bersangkutan. Bentuk rumah adat dibuat sesuai dengan bangunan asli, baik ukuran, bentuk atap, ragam hias, susunan ruangan, bentuk jendela, tangga, dan detail lainnya. Bahkan ada yang langsung dipindahkan dari daerahnya, seperti rumoh Aceh Cut Meutia yang langsung dibawa dari Nangroe Aceh Darusallam. Anjungan Daerah dimaksudkan untuk memberikan informasi mengenai rumah adat berbagai suku bangsa di Indonesia kepada masyarakat luas, terutama generasi muda yang mungkin tidak sempat lagi melihat rumah adat di daerah asalnya. Bangunan dan rumah adat sekaligus digunakan sebagai temapat pameran dan peragaan berbagai benda sejarah, pakaian adat, peralatan kesenian, hasil kerajinan, dan benda-benda budaya lain yang merupakan warisan bangsa yang tak ternilai harganya.

Hari keempat di Kota Jakarta kami mengunjungi wisata di Kebun Binatang Ragunan, di sini banyak terdapat binatang  satwa liar yang berasal dari luar dan dalam negri yang memiliki koleksi binatang yang lengkap dan tempat yang luas, seperti rusa, jerapah, gajah dan lain-lain. Kebun Binatang Ragunan sangatlah luas. Menjelajahnya dengan berjalan kaki sangat menyenangkan karena banyak pepohonan serta area rerumputan. Area pejalan kaki lebih nyaman karena semua jalan sudah diberi paving block.

Kebun Binatang Ragunan

Tiang penunjuk arah di Kebun Binatang Ragunan.

Kamu pun tidak perlu pusing saat berkeliling, karena ada tiang penunjuk arah serta papan peta yang akan membantu selama berkeliling di dalam. Banyak sekali satwa yang bisa kamu lihat, mulai dari mamalia seperti beruang, harimau, gorila, orang utan; reptil seperti buaya, komodo, kura-kura; dan unggas seperti elang, merak, pelikan serta masih banyak berbagai jenis hewan lainnya.

 

 

 

 

 

Tidak lupa mengunjungi Pusat Kota Jakarta yang menjadi kebanggan rakyat Indonesia bertempat di Monumen Nasional (MONAS) untuk mengabadikan keberadaan kami di kota Jakarta dengan menanti saat matahari terbenam yang penuh dengan warna lembayung senja menghiasi langit di ufuk barat. Pesona warna yang penuh dengan kemegahan alam karyta ciptaan Tuhan yang Maha Kuasa, menghiasi langit-Nya.

 Monumen Monas merupakan sebuah monumen dengan ketinggian yakni 132 meter, yang didirikan sebagai perlawanan dan perjuangan terhadap rakyat Indonesia sebagai kemerdekaan dari pemerintah kolonial Belanda Timur.Pembangunan dalam monumen ini yakni telah dimulai pada 17 Agustus 1961 atas perintah dari Presiden Soekarno dan dapat di akses oleh publik pada 12 Juli 1975. Monumen ini di mahkotai dengan api yang ditutupi dengan lempengan emas dan melambangkan semangat juang yang membakar. Monumen Nasional ini memiliki sebuah letak tepat di tengah Lapangan Medan Merdeka di pusat kota Jakarta. Ide untuk membangun sebuah monumen Monas sebenarnya ada pada sejak 1949, ketika Presiden Soekarno ingin mulai membangun monumen nasional pada waktu itu. Yang menarik, Ir. Soekarno juga ingin menyeimbangkan dalam suatu ketinggian Monas dengan Menara Eiffel di Prancis. Kemudian pemukiman Monas memiliki letak di depan sebuah Istana Merdeka.

Perjalanan pada hari kelima Study Tour 2019 dilanjutkan ke Kebun Raya Bogor, dari Kota Jakarta memiliki waktu tempuh sekitar 2 jam perjalanan. Kota Bogor adalah kota hujan yang merupakan kota yang indah dan asri memiliki udara yang sejuk dan taman-taman yang indah, salah satunya adalah Kebun Raya Bogor yang memiliki tempat sejarah yang khas dari semenjak zaman Penjajahan Belanda dan ada peninggalan yang menjadi destinasi wisata diantaranya :

RASASTI REINWARDT & PEKARANGAN BELAKANG ISTANA BOGOR

Kebun Raya Bogor
Pemandangan Pekarangan Belakang Istana Bogor

Tunggu sebentar. Sebelum Anda beranjak dari Danau Gunting, luangkan waktu Anda sejenak. Ada dua hal yang menarik untuk Anda lihat dari sisi danau ini. Yang satunya tepat berada di sisi kiri (bila dari arah Gerbang Masuk Kebun Raya Bogor). Ini sesuatu yang sering terlewat karena pengunjung seringkali terpesona dengan keindahan si Bunga Teratai Pink.  Bentuknya adalah sebuah prasasti. Kalau Anda tidak tahu kisah sejarah yang meliputinya, maka prasasti ini hanyalah sebuah batu biasa. Tetapi, bila melongok sejenak ke belakang, maka nama yang terpahat di atas prasasti tersebut rasanya akan membuat Anda kagum.Ya, karena prasasti tersebut dibuat untuk mengenang Georg Karl Reinwardt, si pendiri Kebun Raya. Dari tangannya lah, Kebun Raya Bogor lahir. Tugu atau prasasti ini dibuat untuk menghormati jasanya terhadap tempat kebanggaan warga Kota Hujan dan Indonesia ini. Jadi, hentikanlah langkah sejenak untuk melihatnya.

Setelah itu palingkan wajah Anda ke arah Utara. Bisa temukan apa yang menarik di arah tersebut?. Pasti. Sebuah pemandangan bangunan berwarna putih yang gagah dan anggun akan menyambut mata Anda. Ditingkahi dengan warna hijau rumput. Sebuah bangunan yang menyimpan cuplikan dari sejarah panjang Kota Bogor dan juga Indonesia. Tidak perlu disebutkan lagi karena Anda pasti sudah mengetahui bangunan apa yang dimaksud. Ya, betul itu adalah Istana Bogor, tepatnya pekarangan belakang dari istana yang pertama kali dibangun pada tahun 1745. Untuk lebih jelasnya tentang Istana Bogor, bisa membaca tulisan di website ini, yaitu Istana Bogor – kisah sebuah perjalanan. Belum selesai sampai disitu. Masih ada beberapa hal yang hendak saya sarankan sebelum Anda melangkahkan kaki meninggalkan sisi Danau Gunting. Sapukan pandangan mata Anda ke sekitar halaman belakang Istana Bogor tadi. Adakah yang membuat Anda ingin tahu? Kalau mata Anda jeli, maka Anda akan bisa menemukan beberapa benda lain di pekarangan tersebut yang tidak kalah menariknya. Benda-benda yang LB maksud berbentuk patung.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Hari keenam  Perjalanan kami menuju dari kota Bogor langsung menuju Kota Palembang yang menjadi tujuan terakhir perjalanan kami dan sampai pada hari ketujuh.  Kota Palembang adalah ibu kota provinsi Sumatera Selatan, kota terbesar kedua di Sumatera setelah Medan. Kota Palembang memiliki luas wilayah 358,55 km persegi menjadi rumah bagi 1,8 juta warganya. Penduduk kota Palembang didominasi oleh etnis Melayu dan menggunakan Bahasa Melayu dalam berkomunikasi sehari-hari. Selain etnis Melayu, kota dengan jumlah penduduk mencapai 1.441.500 jiwa ini juga didiami berbagai etnis, diantaranya Pasemah, Semendo, Tionghoa, Lampung, Minangkabau, dan Aceh. Berdiri 682 Masehi Kota Palembang dipercaya sebagai ibu kota dari Kerajaan Sriwijaya, kerajaan nasional pertama di Nusantara. Hal ini didukung dengan ditemukannya prasasti Kedukan Bukit di Bukit Siguntang, yang mengatakan bahwa Palembang sudah menjadi sebuah kota sejak tanggal 16 Juni tahun 682 M. Hal ini menjadikan kota Palembang sebagai kota tertua di Indonesia. Warga keturunan yang banyak tinggal di Palembang adalah Tionghoa, Arab dan India. Hal ini terlihat dari keberadaan Kampung Kapitan yang merupakan wilayah Komunitas Tionghoa dan Kampung Al Munawwar yang merupakan wilayah Komunitas Arab. Tak hanya itu, kota Palembang juga memiliki julukan sebagai kota Venesia dari Timur (Venice of the East) yang disematkan oleh dunia barat.

Wisata Sungai dan Sejarah
Kota Palembang terkenal dengan ikon khasnya, Jembatan Ampera, sebuah jembatan megah sepanjang 1.177 meter yang melintas di atas Sungai Musi dan yang menghubungkan daerah Seberang Ulu dan Seberang Ilir. Pemandangan malam hari di sekitar jembatan ini sangat indah dengan hiasan lampu-lampu di sekitar jembatan. Tak jauh dari Jembatan Ampera, ada destinasi wisata sejarah khas di Palembang, yakni Benteng Kuto Besak, yang terletak di tepian Sungai Musi, Benteng ini merupakan salah satu bangunan peninggalan Kesultanan Palembang Darussalam. Selain itu, Palembang juga memiliki pulau unik yang menjadi keistimewaan bagi Kota Palembang. Pulau ini dinamakan Pulau Kemaro yang terletak di tengah Sungai Musi.

 

Lokasi Di Stadion Gelora  di Jaka Baring Kota Palembang