Sejarah Panti Asuhan Al Hidayah Padang

SEJARAH PANTI ASUHAN AL HIDAYAH PADANG

              Asal mula berdirinya LKSA Al Hidayah Padang atau dahulu bernama“Panti Asuhan Al Hidayah Tk. I Prop. Sumatra Barat” yang berlokasi di Jl. Terpadu Kapuk Kel. Kalumbuk Kec. Kuranji Kota Padang, adalah bermula dari kegiatan ketua RW III Kel. Kalumbuk yang bernama “Jamaris Jama’an” (alm) wiraswasta, yang baru diangkat menjadi RW III oleh Bapak lurahnya “Marjohan”, yang saat itu dibina oleh Bapak Drs. Syaiful Dahlan Selaku Camat Kuranji tahun 1986.
Beberapa kegiatan yang direncanakan RW antara lain :

  1. Tempat pemandian jenazah pada mushalla al muthmainnah (surau batu) kalumbuk yang berada disamping rumahnya, lengkap dengan usungan jenazahnya.
  2. Mendata anak-anak yatim yang berada dilingkungan RW III khususnya, Kel. Kalumbuk umumnya.
  3. dan lain lain

           Seperti halnya kegiatan pengurus masjid dan mushalla pada saat saat menjelang masuknya bulan suci Ramadhan pada umumnya setiap pengurus teringat kepada anak-anak yatim disekitarnya. Maka pada mushalla al Muthmainnah, hal ini dipimpin secara langsung oleh RW-nya, bekerja sama dengan pengurus mushalla. Adapun RW III bersama dengan sekretarisnya sdr. Zubir Boy, BA, bertekad untuk mensejahterakan anak-anak yatim terutama menghadapi hari raya Idul Fitri yang sudah diambang pintu. Karena kegiatan ini berada disekitar bulan rajab (satu bulan menjelang masuk bulan ramadhan) tepatnya ramadhan tahun 1986/ 1307 H, yaitu minimal dengan pengadaan 1 stel pakaian.
Dalam waktu yang relative pendek sudah terdata sejumlah 35 orangg anak yang terdiri dari; anak yatim piatu, anak yatim, anak piatu, dan beberapa orang anak terlantar lainnya (anak miskin). Ini baru dalam lingkungan RW III, apalagi kalau dihitung sekelurahan kalumbuk yang terdiri dari 6 RW, tentu akan lebih banyak lagi anak-anak sebagai penyandang masalah sosial.  Dalam keadaan seperti inilah Pak RW pada senja hari datang kerumah penulis (Ma’ad B), yaitu rumah No 2 RT 11/ RW IV, Kel. Kalumbuk dengan maksud tujuan minta respon, bimbingan, berbincang bincang tentang kehidupan anak-anak yatim selanjutnya, disamping itu penulis tidak mau ketinggalan pula menyumbang 1 stel pakaian.
Melihat tingginya perhatian RW, lalu penulis punya saran; “kalau begitu pak (RW), alangkah baiknya kalau kita bangun sebuah panti asuhan dikalumbuk ini sebagai tindak lanjut dari pembinaan anak-anak yatim yang lebih terarah lagi”. Jawab RW, “Benar sekali Buya, tapi bagi kita keberadaan tanah yang sulit buya”.
Alhamdulillah, pakaian yang direncanakan sudah dapat disiapkan menjelang masuknya bulan puasa. Inilah modal pertama bagi RW yang merupakan senjata yang ampuh dalam menyosialisasikan keberadaan anak-anak yatim yang menjadi tanggung jawab bersama oleh kaum muslimin/ umat didaerah ini. Dengan takdir Allah S.W.T. pada bulan Ramadhan tahun ini, Mushalla Al Muthmainnah atau yang lebih dikenal dengan nama “Surau Batu” dapat giliran kunjungan Tim Ramadhan dari Kotamadya Padang. Otomatis bpk RW berencana penyerahan paket lebaran yang berupa pakaian jadi tersebut dilakukan dihadapan para tamu yang datang, secara bergantian oleh pejabat kepada anak-anak, paket demi paket. Melihat meriah dan antusiasnya acara penyantunan terhadap anak-anak yatim dimalam hari puasa Ramadhan tersebut, tergugahlah hati seorang mamak kepada waris suku balai mansiang yang bernama Muchtar Amin (Kutar Karaben) untuk dapat melanjutkan santunan kepada anak-anak yatim, yaitu dengan merencanakan membangun sebuah panti asuhan dikalumbuk ini. Beliau (Muchtar Amin) berkata: “Pak RW! Kok dibuek bana panti asuhan di kalumbuk ko ba a pak RW?”. Usulan tersebut dijawab oleh RW, “Rancak bana ma angku, tapi tanah indak adoh do angku!”. Pertanyaan tersebut langsung dijawab oleh Muchtar Amin saat itu, “dikami adoh tanah, lihatlah besok tanah kami adoh dikapuk jl. Terpadu, kalau cocok nanti dibuat surat pernyataan kaum yang berbunyi untuk diwakafkan membangun gedung panti asuhan anak-anak yatim.

            Besok harinya RW datang kerumah penulis (Ma’ad B) mengajak untuk pergi bersama melihat lokasi tanah yang ditawarkan oleh Bapak Muchtar Amin. Setelah dilihat, kenyataan lokasi memang sangat memungkinkan, karena letaknya ditepi jalan.
Dengan mengundang pemuka masyarakat yang dirasa bisa bekerja sama untuk maksud yang sama, maka diadakanlah rapat kali pertama dirumah Bapak Muchtar Amin (rumah pembujangannya dikalumbuk) bulan juni 1986, (taraf persiapan tanah). Dalam taraf persiapan tanah ini, yaitu antara lain pernyataan kaum yang disetujui oleh mamak bajinis adapt, sebagai pewakaf tanah (wakif) dan nadzar wakaf yang diaktakan oleh kepala KUA Kecamatan (waktu itu Kepala KUA nya Bapak Drs. Sudirman).
Dalam rapat ini, Bapak Muchtar Amin langsung menunjuk penulis (Ma’ad B) sebagai nadzir wakafnya, sementara RW ikut mengusulkan dan menyetujuinya pula.
Dengan prakarsa pak RW juga, maka diadakanlah rapat bersama dengan pemuka masyarakat se kel. Kalumbuk dibawah pimpinan pak lurahnya Marjohan. Untuk pembentukan panitia pembangunan asrama anak yatim (panti asuhan).  Rapat diadakan pada hari jum’at, 8 agustus 1986, jam 20.00 WIB malam, bertempat di Kantor Lurah Kalumbuk Kuranji Padang. Melihat kehadiran peserta rapat tidak memadai, maka rapat diundur pada hari kamis,14 Agustus 1986, bertempat di Wisma Ibunda, jam 20.00 WIB malam, yang dihadiri oleh Pak Camat Kuranji “Drs. Syaiful Dahlan. Setelah rarpat dibuka maka timbullah input input dari peserta rapat maka dibuatlah susunan panitia sebagai berikut:     Panitia pembangunan Asrama Anak Yatim Pelindung/ penasehat :

  • Camat Kuranji
  • Koramil Kuranji
  • Kapolsek Kuranji
  • Komisaris Golkar Kuranji
  • LKMD Kel. Kalumbuk
  • Lurah Kalumbuk
  • Syamsuddin Dt. Lelo Basa

Ketua   I              : Marjohan
II             : Jamaris Jamaan
Sektetaris     I    : Zubir Boy, BA
II    : Mawardi syam
Bendahara         : E. Tatiek Hadi Koesoemo

             Setelah terbentuknya panitia pembagunan yang akan berperan menggerakkan lajunya pembangunan, mulaii dari pembuatan gambar kontruksi bangunan sampai kepada pengadaan bahan bangunan sampai selesai untuk siap pakai, maka diadakanlah rapat kerja panitia bersama seksi seksi yang ada saat itu. Hasilnya, gambar kontruksi bangunan dipercayakan kepada seseorang yang dianggap ahli soal itu, yaitu sdr Nazar. Acara rapat berlanjut dengan mendengar serta menerima input input dari peserta rapat, maka benyaklah suara dan pendapat yang menyatakan bahwa bangunan panti yang diharapkan keberadaannya itu tidak akan mungkin terwujud kalau hanya dikelola oleh kita kita ini saja yang kemampuannya sangat terbatas, sementara masyarakat lingkungan hidup dibawah garis kemiskinan pula. Oleh karena itu alangkah baiknya kalau kita cari suatu organisasi social yang bersedia bekerja sama dengan kita. Mendengar usulan tersebut, lalu ditanggapi oleh salah seorang peserta rapat (dalam hal ini Ibu Tatiek H. Koesoemo) berkata: “kalau benar keputusan rapat menyepakati demikian, saya bersedia menghubungi suatu organisasi, yaitu organisasi pengajian Al Hidayah Tk I Prop. Sumatra Barat “, yang sekarang dipimpin oleh Ibuk Rosmalini Rafki (Ny. Kakanwil Depkes Sumatra Barat). Disaat organisasi tersebut dihubungi oleh Ibuk Tatiek H. Koesoemo, ternyata organisasi tersebut mempunyai cita cita dan maksud yang sama dengan kita masyarakat kalumbuk yaitu sama sama berencana untuk membangun gedung panti asuhan anak-anak yatim pula. Konon kabarnya pengurus pengajian Al Hidayah ini telah mendapat tanah untuk itu dikenagarian pasar usang kab. Padang-Pariaman. Namun, setelah tanah akan digarap masih ada orang menghalanginya maka gagallah rencana pekerjaan saat itu. Dalam keadaan suasana seperti itu, Ibu Tatiek H. Koesoemo datang membawa berita bahwa kami dari masyarakat kalumbuk ingin menemui Ibuk Ibuk pengajian Al Hidayah untuk mengadakan kerjasama dalam membangun panti asuhan di kalumbuk diatas lahan 500 m2, wakaf dari kaum Pak Muchtar Amin suku Balaimansiang.
Dengan adanya berita demikian, Ibu Tatiek jelas membawa angin segar bagi kedua belah pihak, ibarat bertemunya ruas dengan buku dimana yang satu menguatkan yang lain. Semenjak itu terciptalah kerjasama yang baik dan harmonis bagi kedua belah pihak yang sekarang sudah menyatakan ibarat kuku dengan daging dalam membelai anak asuhnya, yakni anak-anak yatim. Dengan perencanaan yang sudah matang, itulah pekerjaan membersihkan lahan berupa membersihkan semak semak dan pohon pohon kayu yang sudah lama tumbuh, serta 3 buah rumpun bambu yang perlu ditumbangkan, karena lahan yang kita olah ini lokasinya rendah dan digenangi air, maka merasa perlu diadakan penimbunan lalu dilingkari dengan pondasi sehingga menjadi sama datar dengan lahan lingkungannya. Sesuai dengan gambar, secara berangsur angsur dibuatlah pondasi kamar tamu, kamar mandi, kamar tidur, wc dan lain sebagainya. Dalam suasana sibuk seperti ini, Ibuk Pengajian Al Hidayah sibuk pula mengurus membentuk Yayasan sebagai badan hukum yang akan menjadi landasan berdirinya sebuah gedung yang disebut Panti Asuhan Al Hidayah. Dalam jangka waktu yang tidak lama maka terbentuklah suatu yayasan yang diberi nama yayasan Al Hidayah Tk I Prop. Sumatra Barat pada tanggal 13 February 1987 oleh Notaris yang bernama Helmi Paneh. Dalam rangka kampanye pemilihan presiden tahun 1987, datanglah Bapak Fuad Hasan (Mendikbad) ke Sumatra Barat, dalam rangka suksesnya pemilihan presiden. Kesempatan ini tidak diabaikan oleh Ibuk Ibuk pengajian Al Hidayah, dimana Bapak Fuad Hasan selaku Pembina golkar ditingkat pusat, kiranya beliau dapat menyisihkan waktu untuk datang kelokasi bangunan panti asuhan dibawah naungan golkar, tepatnya tanggal 27 april 1987. Sebelum batu pertama diletakkan, Bapak Fuad Hasan menyampaikan pidato beliau untuk menggugah semangat panitia pembangunan agar bekerja keras, membanting tulang untuk terwujudnya sebuah gedung panti asuhan yang diharapkan, sementara anak yatim yang akan menghuni menempati panti sudah terkumpul sebanyak 35 orang. Sehabis beliau berpidato, Bapak Fuad Hasan menitipkan sejumlah uang yaitu sebanyak Rp 5.000.000,- Kata beliau, “Ini uang pendidikan, tolong nanti setelah panti berdiri tolong siapkan sebuah rangan yang diberi nama Ruangan Pendidikan”.
Dengan adanya uang bantuan dari mendiknas ini, terasa lancarnya jalan pembangunan, ditambah lagi dengan adanya sumber uang dari wali kota padang dan Bapak Gubernur Sumatra Barat. Begitu juga dari perusahaan perusahaan seperti dari PT Semen, Skopindo, dan lain lain. Untuk membulatkan tekad serta membangkitkan semangat kerja, pengurus mengadakan rapat/ pertemuan sekali 15 hari. Rapat dihadiri oleh penitia pembagunan dan pengurus yayasan Al Hidayah yang dipimpin oleh Ibuk Rosmalini Rafki. Disaat itulah Ibuk Rafki didesak oleh anak-anak dan menuntut kepada Ibuk Rafki dengan kata kata; “Buk bilo jo panti awak ko dibangun lai buk? Buliah awak huni lai buk!”, katanya. Demikianlah pekerjaan pembangunan berjalan tahap demi tahap selama ± 3 tahun (1987-1990). Dalam masa kurun waktu ± 3 tahun itulah para pejabat banyak berdatangan dari pusat, karena disinyalir diantara persatuan Ibuk Ibuk pengajian Al Hidayah se Indonesia, baru pengajian Al Hidayah dari Sumatra Baratlah yang sudah membangun panti, bekerjasama dengan masyarakat kalumbuk. Para pemuda bangkit membangun gedung, mengecor lantai II sampai membuat kudo kudo dan menaikkannya sampai selesai teratap dan plesternya dibawah pimpinan putera kapuk Ir. Armen Zaini, CS. Bersamaan denagn itu pada tahun 1987 datang pula pejabat dari Dep. Agama, yaitu Bapak Dr. Tarmizi Taher dan Ibuk Dr. Zakiah Drajat, dimana masing masing beliau berpidato memberikan bimbingan dan arahan kepada kami secara keseluruhan. Kemudian disaat Ibuk Zakiah Drajat naik mimbar dan berpidato menyampaikan arahan arahan baliau, lalu beliau itu bertanya; “Berapa orang anak yang sudah terdata? :…….50 Orang, Berapa orang laki laki? :………..35 Orang, dan permpuan 15 Orang, Dimana asrama laki laki? :………lantai I dan perempuan lantai II.
Mendengar jawaban tersebut, dengan lantang dan tegas Ibuk Zakiah berkata: “Jangan disatu atapkan anak laki laki dengan anak perempuan! Walaupun mereka anak-anak”. Semenjak itulah pengurus sudah menetakan dan bertekad mencari lokasi tanah untuk pembangunan asrama anak-anak perempuan, sementara gedung bangunan panti yang sedang dikerjakan khusus untuk anak laiki laki saja. Berhubung karena kita sampai sekarang belum mampu membangun asrama untuk perempuan, maka khusus anak-anak perempuan yang diterima, hanya anak perempuan yatim yang berada disekitar panti saja, yang bisa menginap dirumah orang tuanya masing masing, dengan harapan mereka tidak ada yang putus sekolah, biaya sekolah ditanggung oleh panti. Maka pada tahun 1990 anak-anak (laki laki) sudah mulai masuk asrama dengan peralatan yang sangat serba sederhana sekali, dan tahun 1991 diadakanlah pertemuan besar besaran dalam rangka peresmian pemakaian gedung panti yang dihadiri oleh Bapak Drs. H. Hasan Basri Durin (Gubernur Sumatra Barat). Sebagai bukti Prasasti langsung ditanda tangani oleh Bapak Gubernur tsb.

        Pengurus Panti Asuhan Al Hidayah periode demi periode :

  1. Ketua : Jamaris Jamaan
    Sekretaris : Zubir Boy, BA
    Bendahara : E. Tatiek Hadi Koesoemo
  2. Ketua : Jamaan Hasan
    Wakil ketua : Jamaris Jamaan
    Sekretaris : Rasyid Sartoni
    Wakil Sekretaris : Zubir Boy, BA
    Bendahara : Drs. Muzar
  3. Ketua : Drs. H. Maad B MS
    Wakil ketua : H. Lukman Hakim
    Sekretaris : Rujito / Chaidir
    Bendahara : H. Mawardi Syam

Padang, 15 Januari 2010
Pimpinan Panti Asuhan Al Hidayah Padang

 

Drs. H. Ma’ad. B MS

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *